Beranda | Artikel
Karakteristik Kaum Yahudi Menurut Al-Quran
9 jam lalu

Karakteristik Kaum Yahudi Menurut Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 5 Safar 1448 H / 20 Juli 2026 M.

Kajian Tentang Sebab-Sebab Perpecahan Umat Islam

“Kaum Yahudi adalah manusia yang paling pengecut dan penakut.”

Penilaian mengenai watak penakut kaum Yahudi ini bersumber langsung dari ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an melalui surat Al-Hasyr ayat 13 dan 14. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَأَنْتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِمْ مِنَ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

“Sesungguhnya kamu di dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Hasyr[59]: 13)

Melalui ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat bahwa kaum Yahudi menyimpan rasa takut yang sangat besar di dalam dada mereka. Rasa takut mereka terhadap kekuatan orang-orang yang beriman dan bertauhid justru jauh lebih besar dibandingkan rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketetapan ini mengisyaratkan bahwa penuntut ilmu dan kaum muslimin secara umum hendaknya berusaha meneladani kualitas iman para sahabat dan generasi salaf agar dapat memberikan dampak gentar bagi kaum Yahudi. Kerusakan cara berpikir kaum Yahudi yang menempatkan ketakutan kepada makhluk di atas ketakutan kepada Pencipta disebabkan karena mereka merupakan golongan manusia yang tidak memiliki kepahaman terhadap agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengurai karakteristik militer mereka pada ayat berikutnya:

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

“Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali di dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Hasyr[59]: 14)

Ayat tersebut menegaskan bahwa kaum Yahudi tidak memiliki keberanian untuk menghadapi orang-orang beriman secara terbuka di medan laga. Mereka hanya mau melakukan peperangan jika berada di dalam wilayah-wilayah yang dilengkapi dengan benteng pertahanan yang kuat atau berlindung dengan cara bersembunyi di balik tembok pembatas.

Di samping memiliki mental yang lemah dalam peperangan terbuka, internal kaum Yahudi juga mengalami permusuhan yang sangat berat. Penilaian luar dari mata manusia sering kali tertipu dengan mengira bahwa barisan kaum Yahudi merupakan kekuatan yang solid dan bersatu padu. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyingkap fakta sebaliknya bahwa hati sesama mereka sebenarnya saling bercerai-berai dan diliputi oleh permusuhan internal yang sangat sengit. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan informasi yang sangat jelas mengenai hakikat kaum Yahudi sebagai golongan manusia yang paling penakut dan pengecut. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa anak-anak kecil dari kalangan kaum muslimin memiliki keberanian yang besar untuk menghadapi mereka, sementara mereka justru memperlihatkan ketakutan terhadap lemparan batu.  Akan tetapi, kaum Yahudi menjadi kuat disebabkan oleh lemahnya iman kita, banyaknya maksiat kita, serta bercerai-berainya kita.

Musibah terbesar umat Islam saat ini terletak pada tiga faktor pelemah tersebut. Lemahnya kualitas iman, maraknya perbuatan maksiat yang dilakukan secara terang-terangan maupun tersembunyi, serta kondisi internal umat yang terpecah belah menjadi celah utama yang dimanfaatkan oleh musuh. Seandainya kaum muslimin memiliki iman yang kokoh, senantiasa taat menjalankan syariat, serta bersatu padu di atas kebenaran, niscaya kekuatan kaum Yahudi tidak akan memiliki arti sama sekali.

Kewajiban Mempersiapkan Kekuatan Umat

Menyikapi kondisi tersebut, terdapat sebuah kewajiban yang dibebankan di atas pundak kaum muslimin untuk mempersiapkan diri menghadapi kaum Yahudi dengan kekuatan iman, kekuatan persenjataan, serta dengan persatuan dan sikap saling berpegang teguh.

Langkah pertama dan paling utama yang harus ditempuh adalah menempa kekuatan iman. Metode ini merupakan strategi dasar yang diterapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menggembleng para sahabat pada fase awal Islam. Meskipun pada masa tersebut terdapat kekuatan-kekuatan besar dunia seperti imperium Persia, Romawi, serta komunitas Yahudi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap memfokuskan pendidikannya pada penanaman akidah dan iman yang menghujam kuat. Beliau mengajarkan Islam sebagai agama yang haq secara murni, tanpa menyibukkan diri untuk menakut-nakuti para sahabat dengan narasi makar rahasia dari pihak Yahudi, Persia, maupun Romawi. Para sahabat dididik untuk fokus belajar dan beramal.

Langkah berikutnya adalah mempersiapkan pertahanan militer melalui kekuatan persenjataan yang memadai, serta membangun kekuatan integrasi sosial melalui persatuan dan konsistensi berpegang teguh pada syariat. Ketiadaan persatuan merupakan musibah besar bagi umat Islam saat ini, di mana perbedaan afiliasi organisasi kemasyarakatan (ormas) sering kali melahirkan sikap permusuhan yang tajam sesama muslim. Sikap mengedepankan fanatisme kelompok ini harus dikikis habis agar persatuan yang solid dapat terwujud, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan rasa gentar ke dalam hati kaum Yahudi.

Ketegasan terhadap Pemuka Yahudi: Kisah Ka’ab bin al-Asyraf

Penulis kitab menegaskan sebuah prinsip penting:

“Karena sesungguhnya kaum Yahudi tidak cocok dihadapi melainkan dengan bahasa kekuatan.”

Contoh nyata mengenai penerapan bahasa kekuatan terhadap kaum Yahudi yang melanggar perjanjian dibuktikan melalui sejarah eksekusi Ka’ab bin al-Asyraf. Ia merupakan salah seorang pemuka Yahudi di Madinah yang telah melampaui batas dalam menyakiti Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya melalui bait-bait puisi provokatif dan makar jahatnya.

Melihat pelanggaran berat tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menawarkan sebuah tugas penting kepada para sahabat:

مَنْ لِكَعْبِ بْنِ الأَشْرَفِ، فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ.‏ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ أَتُحِبُّ أَنْ أَقْتُلَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : نَعَمْ

“Siapa yang mau mendatangi Ka’ab bin al-Asyraf? Karena sesungguhnya ia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya” Maka Muhammad bin Maslamah berkata: “Apakah engkau suka jika saya membunuhnya?” Beliau menjawab: “Ya.” (HR. Bukhari)

Tanpa ada keraguan sedikitpun, Muhammad bin Maslamah Radhiyallahu ‘Anhu mengajukan diri untuk mengambil tanggung jawab besar tersebut. Beliau kemudian bertolak membentuk sebuah tim kecil bersama beberapa orang sahabat menuju kediaman Ka’ab bin al-Asyraf.

Melalui strategi yang matang, para sahabat berhasil membunuh Ka’ab bin al-Asyraf di dalam rumahnya sendiri. Menjelang kematiannya, tokoh penjahat Yahudi tersebut sempat mengeluarkan teriakan yang sangat kencang:

فَصَاحَ الْمُجْرِمُ الْيَهُودِيُّ صَيْحَةً شَدِيدَةً وَهُوَ يَمُوتُ، أَفْزَعَتْ مَنْ حَوْلَهُ مِنَ الْيَهُودِ، فَلَمْ يَبْقَ حِصْنٌ إِلَّا أُوقِدَتْ نَارٌ

Maka si penjahat Yahudi itu berteriak dengan teriakan yang sangat kencang saat ia mati, hingga teriakan tersebut mencemaskan orang-orang Yahudi di sekitarnya, sehingga tidak tersisa satupun benteng melainkan langsung dinyalakan api (sebagai tanda bahaya).”

Penyalaan api di setiap benteng kaum Yahudi bertujuan untuk membangunkan mereka dari tidur karena kepanikan yang luar biasa akibat mendengar teriakan Ka’ab bin al-Asyraf. Keesokan paginya, kaum Yahudi mengetahui tentang tewasnya pemimpin mereka, Ka’ab bin al-Asyraf, sehingga rasa takut langsung merasuk ke dalam hati mereka.

Kematian satu orang tokoh provokator tersebut sudah cukup untuk melumpuhkan mental dan menebarkan rasa takut yang mendalam ke seluruh komunitas Yahudi. Peristiwa sejarah ini menjadi bukti nyata bahwa mereka memiliki mentalitas yang sangat penakut.

Pengkhianatan dan Ketakutan Bani Quraizhah

Karakter pengecut kaum Yahudi kembali terbukti pada kasus pengkhianatan Bani Quraizhah dalam Perang Ahzab. Ketika menyadari bahwa posisi mereka terisolasi di Madinah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah pasukan sekutu Quraisy mundur, Bani Quraizhah langsung dilingkupi kepanikan yang luar biasa.

Mereka memandang bahwa kehancuran sudah berada di depan mata akibat tindakan mereka yang telah merobek perjanjian damai yang pernah disepakati bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bani Quraizhah memilih bersembunyi di balik kokohnya benteng pertahanan mereka sembari menunggu konsekuensi hukum atas makar yang telah mereka perbuat. Sementara itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama pasukan kaum muslimin kembali dari Perang Ahzab setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemenangan yang gemilang.

Setibanya di Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meletakkan senjata dan bersiap untuk mandi membersihkan diri. Pada momen itulah, Malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau:

أَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: أَقَدْ وَضَعْتَ السِّلَاحَ؟ وَاللَّهِ مَا وَضَعْنَاهُ، فَاخْرُجْ إِلَيْهِمْ. قَالَ: فَإِلَى أَيْنَ؟ قَالَ: هَاهُنَا، وَأَشَارَ إِلَى بَنِي قُرَيْظَةَ

“Jibril ‘alaihissalam mendatangi beliau seraya bertanya: ‘Apakah engkau telah meletakkan senjata?’ Beliau menjawab: ‘Ya’. Jibril berkata: ‘Demi Allah, kami (para malaikat) belum meletakkan senjata kami’. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: ‘Kemana (tujuannya)?’ Jibril menjawab: ‘Ke arah sini’, (seraya mengisyaratkan tangannya ke arah perkampungan Bani Quraizhah).” (HR. Bukhari)

Mendengar instruksi dari Malaikat Jibril ‘alaihissalam, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam langsung mengeluarkan maklumat militer kepada seluruh pasukan kaum muslimin secara cepat dan mendadak untuk segera bergerak menuju Bani Quraizhah. Demi mendorong mobilitas pasukan agar bergerak secepat mungkin, beliau bersabda:

لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

“Janganlah ada seorangpun yang mendirikan shalat Ashar melainkan setelah ia sampai di Bani Quraizhah.” (HR. Bukhari)

Perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut melahirkan sebuah pembahasan fiqih yang sangat menarik akibat adanya perbedaan penafsiran di kalangan para sahabat di tengah perjalanan. Ada sebagian memilih untuk langsung mendirikan shalat Ashar di jalan karena waktu shalat telah masuk, ada yang bersikeras menunda pelaksanaan shalat Ashar dan baru mendirikannya setelah mereka benar-benar menginjakkan kaki di perkampungan Bani Quraizhah, sekalipun waktu Ashar telah habis. 

Peristiwa ini menjadi dalil yang sah di dalam ushul fiqih bahwa perbedaan pendapat yang bersifat variatif (ikhtilaf tanawwu’) di dalam ranah cabang agama merupakan perkara yang wajar dan dapat diterima. Generasi sahabat mencontohkan bahwa variasi pemahaman di dalam masalah fiqih ini tidak merusak ikatan persaudaraan mereka. Mereka tetap berada di dalam satu barisan yang solid dan bersatu padu.

Pengepungan terhadap benteng Bani Quraizhah yang dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama para sahabat berlangsung selama dua puluh lima malam. Ketika cobaan dan jepitan pengepungan semakin berat menimpa mereka, dikatakan kepada mereka: “Turunlah kalian untuk tunduk kepada hukum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Sebelum menyerahkan keputusan akhir, pihak Bani Quraizhah meminta masukan dengan bermusyawarah kepada Abu Lubabah Radhiyallahu ‘Anhu. Pada awalnya, Abu Lubabah Radhiyallahu ‘Anhu memberikan isyarat dengan tangannya ke arah leher, yang berarti mereka akan dieksekusi mati. Setelah itu, pihak Bani Quraizhah menyatakan kerelaan untuk tunduk pada putusan hukum yang akan ditetapkan oleh sahabat Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu ‘Anhu.

Ketika Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu ‘Anhu tiba di lokasi majelis, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perintah kepada beliau:

أُحْكُمْ فِيهِمْ

“Berikanlah keputusan hukum bagi mereka.” 

Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu ‘Anhu kemudian menetapkan keputusan hukum secara berkeadilan:

فَإِنِّي أَحْكُمُ فِيهِمْ أَنْ تُقْتَلَ مُقَاتِلَتُهُمْ، وَتُسْبَى ذَرَارِيُّهُمْ، وَتُقَسَّمَ أَمْوَالُهُمْ

“Maka sesungguhnya aku menetapkan keputusan hukum bagi mereka; agar orang-orang yang ikut berperang di antara mereka dibunuh, wanita dan anak-anak mereka dijadikan sebagai tawanan, dan harta benda mereka dibagikan (sebagai ghanimah).”

Hukuman mati tersebut tidak dijatuhkan kepada seluruh anggota komunitas, melainkan hanya diberlakukan secara khusus bagi orang-orang dewasa yang terbukti ikut serta mengangkat senjata dan memerangi kaum muslimin. Mendengar keputusan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam langsung memberikan pembenaran:

لَقَدْ حَكَمْتَ فِيهِمْ بِحُكْمِ اللَّهِ وَحُكْمِ رَسُولِهِ

“Sungguh engkau telah menetapkan hukum bagi mereka dengan hukum Allah dan hukum Rasul-Nya.”

Peristiwa penumpasan makar Bani Quraizhah tersebut memberikan penegasan mengenai metode baku yang seharusnya diterapkan di dalam menghadapi kaum Yahudi:

هَذِهِ لُغَةُ الْقُوَّةِ الَّتِي تُعَامَلُ بِهَا مَعَ الْيَهُودِ، أَمَّا لُغَةُ الْحِجَارَةِ وَالْمُظَاهَرَاتِ وَالْخُطَبِ الرَّنَّانَةِ فَهِيَ لَا تُرْهِبُ الْيَهُودَ

“Inilah bahasa kekuatan yang digunakan untuk menghadapi kaum Yahudi. Adapun bahasa lemparan batu, demonstrasi, serta khotbah-khotbah yang menggelegar semata, pada hakikatnya tidak akan mampu membuat kaum Yahudi menjadi gentar.”

Penulis kitab menegaskan bahwa sarana-sarana demonstratif tidak akan menumbuhkan rasa takut di dalam dada kaum Yahudi. Langkah mendasar yang paling ditakuti oleh mereka adalah kerelaan umat Islam untuk kembali kepada agamanya dengan cara memperkokoh fondasi iman, meninggalkan segala perbuatan maksiat, membangun persatuan yang solid, menjauhi perpecahan internal serta mempersiapkan pertahanan militer dengan kekuatan persenjataan yang nyata. Pendekatan terpadu inilah satu-satunya jalan riil untuk meraih kemenangan atas kaum Yahudi.

Pemaparan sejarah ini sekaligus membantah tuduhan keliru yang dialamatkan kepada dakwah salaf atau ahlussunnah wal jamaah. Dakwah sunnah justru menjadi pihak yang paling memahami metode terbaik untuk memenangkan pertarungan melawan makar Yahudi melalui penerapan prinsip ketegasan syariat serta komitmen total untuk menyelisihi adat kebiasaan mereka.

Komitmen penyelisihan terhadap Yahudi ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Orang-orang yang konsisten mengamalkan sunnah akan selalu berusaha menyelisihi tata cara ibadah dan tradisi kaum Yahudi di dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, kaum muslimin menaati perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur, di mana salah satu hikmah terbesarnya adalah untuk menyelisihi kebiasaan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu, tuduhan yang menyatakan bahwa dakwah sunnah merupakan hasil bentukan atau kepanjangan tangan dari konspirasi Yahudi merupakan sebuah kebohongan besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak.

Millah Ibrahim dan Datangnya Pertolongan Allah

Pembahasan selanjutnya memasuki judul bab yang baru, yaitu Millah Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Pertolongan Allah. Kaidah mendasar mengenai urgensi ibadah dan ketundukan ini diserukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an melalui surat Al-Hajj ayat 77 sampai 78. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۩ وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu, serta perbuatlah kebajikan agar kamu beruntung. Dan berjuanglah kamu di jalan Allah dengan perjuangan yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan begitu pula dalam (Al-Qur’an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj[22]: 77–78)

Inti pembahasan ilmiah dari ayat tersebut terletak pada penggalan kalimat:

مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

“(Ikutilah) agama nenek moyangmu, Ibrahim.” (QS. Al-Hajj[22]: 78)

Berdasarkan tinjauan tata bahasa Arab, kata millata dibaca dengan harakat fathah di akhirnya karena berkedudukan sebagai objek (maf’ul bih). Unsur kata kerja (fi’il) dan subjek (fa’il) di dalam kalimat tersebut sengaja tidak ditampakkan (mahdzuf). Kalimat implisit yang tersembunyi di dalam susunan ayat tersebut adalah:

الْزَمُوا مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ فَإِنَّهَا خَيْرُ الْمِلَلِ

“Lazimilah (ikutilah dengan setia) agama nenek moyang kalian, yakni Ibrahim, karena sesungguhnya ia adalah sebaik-baik agama.”

Kaidah ushul tersebut menegaskan adanya perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seluruh umat Islam untuk senantiasa menetapi serta mengikuti jalan keberagamaan (millah) Nabi Ibrahim alaihissalam.

Millah Ibrahim sebagai Jalan Kemenangan dan Kebahagiaan

Rabb ‘Azza wa Jalla memerintahkan umat Islam untuk mengikuti jalan keberagamaan (millah) Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dalam ayat yang mulia ini. Penulis kitab rahimahullahu Ta’ala memberikan argumentasi mendasar mengenai urgensi peneladanan tersebut:

فَإِنَّهَا هِيَ الطَّرِيقُ الْمُوصِلُ إِلَى النَّصْرِ وَإِلَى سَعَادَةِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Karena sesungguhnya ia merupakan jalan yang dapat menghantarkan menuju kemenangan (an-nashr) serta kebahagiaan dunia dan akhirat.”

Pencapaian kemenangan yang hakiki atas para musuh syariat serta perolehan kebahagiaan hidup di alam dunia maupun di akhirat kelak hanya dapat terwujud apabila seorang hamba bersedia mengikuti dan menetapi karakteristik keberagamaan yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Kedudukan Millah Ibrahim yang sangat agung ini mendasari adanya perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menjadikannya sebagai teladan hidup. Penegasan perintah ini tertuang di dalam Al-Qur’an melalui surat An-Nahl:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. An-Nahl[16]: 123)

Perintah keteladanan tersebut tidak hanya dibebankan secara khusus kepada pundak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam semata, melainkan juga berlaku mengikat bagi seluruh umat beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerukan perintah yang sama kepada segenap kaum muslimin di dalam surat Ali ‘Imran:

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ ۗ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: Maha Benar Allah. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 95)

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajianKarakteristik Kaum Yahudi Menurut Al-Qur’an” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56391-karakteristik-kaum-yahudi-menurut-al-quran/